Cuplikan Bab dalam Buku Positive Parenting

Cuplikan Bab dalam Buku Positive Parenting

Karya :  Ustadz Fauzil Adhim

50 Tahun Mendatang

Anak Kita…

50 Tahun yang akan datang…

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita sudah di kubur entah dimana; atau sudah tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama ketika kita bertemu sekarang  dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang di tempat ini; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allohumma amin.

50 Tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia.Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Makkah Al-Mukarramah hingga Barcelona. Ia menggerakkan hati dan proyek-proyek kebaikan, hingga kota-kota yang pada zaman keemasan Islam terang benderang oleh cahaya_Nya, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istanbul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gema takbir saat pengujung malam datang.  Semantara siangnya mereka seperti serigala kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia……

“Bukankah kepribadian itu terbentuk saat benih bapak ibunya bertemu? Maka, bagaimana kedua orang tua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang”

Baca langsung bukunya ya agar bisa menikmati sajian ilmu parenting yang bermanfaat buat keluarga kita… 🙂

 

Advertisements

Jika engkau tidak malu…

Jika engkau tidak malu…

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍٍ اْلأَنْصَاريِ الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

Diriwayatkan dari Abu Mas’ûd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshârî al-Badri radhiyallâhu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (HR Bukhori)

Allah menitipkan nikmatnya pada manusia yang memiliki rasa malu. Dimana malu adalah sifat yang banyak manusia tidak memperdulikannya. Sebagian manusia mengatakan dirinya beriman, namun sangat enteng menduakan Allah. Yang lain lagi mengatakan dirinya muslimah, namun bangga menampakkan aurat yang seharusnya dia tutup rapat. Ada juga yang mengatakan dirinya mengenal Allah, namun enggan mematuhi aturan Allah, dan bahkan ada yang mengatakan dirinya muslim tapi bangga melakukan zina, meminum khamr, berjudi, serta melakukan amalan tercela lainnya.

Malu, memang kata yang sederhana namun memiliki esensi yang luar biasa bagi diri manusia. Rasulullah Saw menegaskan bahwa “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”

Dalam hidup tidak ada yang ma’shum dari dosa selain Nabi utusan Allah. Manusia tempatnya salah dan lalai, karenannya Allah menegaskan agar setidaknya kita memiliki rasa malu yang bisa menjadi alat kontrol dalam bertindak.

Tanpa rasa malu, generasi zaman ini banyak yang menganggap aturan Allah sebagai pengekangan, sedangkan mengikuti hawa nafsu adalah kebebasan yang perlu dipertahankan.

*Banyak anak muda yang bangga melakukan zina bersama pacarnya katanya demi menguatkan ikatan cinta dan kesetiaan.

*Jilbab syar’i dibilang ketinggalan zaman, sedangkan baju ngetat dan rok mini katanya gaul dan keren.

* Dibilang banci kalau cowok nggak ngerokok dan minum khamr, sedangkan yang rajin sholat dibilang sok alim

*Katanya kampungan kalau doyan baca Qur’an, sedangkan yang doyan baca status, baca komik, main games baru dibilang ngetren.

*Slogan mereka “hidup harus dinikmatin”, nongkrong di kafe dan club malam wajib bagi mereka, sedangkan ikutin pengajiandi majelis ilmu katanya membosankan dan kurang kerjaan.

Astagfirullah…

Kehilangan rasa malu membuat manusia menjadi sok tau, sok benar, sok pintar, sok alim, sok kaya, sok jenius, sok kuat, sok berani dan sok-sok yang lainnya. Mereka tidak pernah mau berfikir bahwa Allah selalu melihat apapun  yang terjadi pada dirinya.

Banyak manusia yang egois hanya mementingkan diri sendiri, tidak peduli lelahnya orang tua memikirkan kesuksesan mereka.

Mereka melakukan zina tanpa merasa berdosa, sedangkan orang tuanya harus menahan malu dan mengurai tangis meihat kelakuan anaknya.

Mereka menyia-nyiakan hidup mereka di kafe-kafe dan club malam, tanpa pernah berfikir bahwa orang tuanya dengan tulusnya berharap agar anaknya menjadi anak sholeh yang selalu ta’at pada Tuhannya.

Malu menjadi senjata ampuh, benteng kuat yang bisa menjaga kita dari melakukan perbuatan yang Allah larang. Malu menjadikan manusia berfikir dua kali untuk melakukan maksiat. Malu membuat kita selalu ingat untuk bersyukur. Malu mejadi jalan untuk kita terhindar dari fitnah hidup dan fitnah akhir zaman. “Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.”

Nikmat yang Melenakan

Nikmat yang Melenakan

Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu, janganlah engkau (Muhammad) tertipu oleh keberhasilan usaha mereka di seluruh negeri.

(QS.Al-Mu’min : 4)

Kami membiarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.

(QS. Luqman : 24)

Aku tertawa (heran) pada orang-orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu Tuhan ridho atau murka terhadapnya.

(Salman Al-Farisi)

Seorang muslim seringkali iri dengan kenikmatan yang dimiliki oleh orang-orang yang mengingkari kebenaran islam. Mereka hidup mewah, harta melimpah, dan kesejahteraannnya terjamin. Janganlah terpedaya dengan kenikmatan mereka (yang hakikatnya sementara) sehingga melemahkan iman. Yakinlah bahwa Allah SWT selalu mencukupi kebutuhan hambaNya.

10 Manfaat Menahan Pandangan

10 Manfaat Menahan Pandangan

Pandangan mata laksana anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barang siapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita , maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan_Nya. “

 ( HR. Ahmad)

Anak kecil jika ditanya tentang apa gunanya mata? tentu mereka akan menjawab untuk melihat. Betul, Allah menciptakan mata agar manusia bisa melihat keindahan yang DIa titipkan lewat alam semesta dan isinya. Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Allah ciptakan lautan yang luas, langit yang menjulang dengan taburan bintang gemintang, hutan yang rimbun, padang yang luas, taman-taman yang indah semuanya untuk memanjakan pandangan. Bahkan lebih dari itu semua, Allah menjadikan manusia sebaik-baik penciptaan yang indah untuk dipandang.

Allah menitipkan banyak keindahan pada diri manusia yang menimbulkan daya tarik tersendiri diantara sesamanya. Kaum adam sangat mengagumi keindahan wanita dan begitu juga sebaliknya wanita juga tak pernah bosan menjatuhkan pandangan pada kaum adam. Daya tarik ini kadang menjerumuskan manusia pada fitnah yang mengundang murka Allah, karenanya Nabi mengingatkan kita akan besarnya fitnah wanita “Aku tidak meninggalkan cobaan yang lebih membahayakan laki-laki selain daripada wanita“. Mungkin kita ingat kisah Imam syafi’i yang kehilangan sebagian hafalannya hanya karena tidak sengaja melihat betis seorang wanita yang pakaiannya tersingkap oleh hempasan angin. Karenanya Rasulullah sangat menganjurkan umatnya agar bisa menjaga pandangannya.

Dalam tulisan ini kami sajikan 10 manfaat yang dapat diperoleh dari menjaga pandangan, di antaranya:

1. Membersihkan Hati dari Derita Penyesalan

Pandangan akan menyusup ke dalam hati seperti anak panah yang meluncur saat dibidikkan. Jika tidak membunuh, tentu akan meninggalkan luka. Banyak dari manusia yang terjerumus hanya karena melihat sesuatu yang bukan menjadi haknya. Berbagai bentuk pelecehan seksual terjadi berawal dari pandangan yang tidak terjaga. karenanya Rasulullah menganjurkan umatnya untuk  menjaga pandangan agar kejernihan hati tetap terjaga sehingga terhindar dari derita dan penyesalan.

2. Mendatangkan Cahaya dan keceriaan di hati.

Cahaya dan keceriaan yang datang karena menahan pandangan  bisa terlihat di mata, wajah dan seluruh anggota tubuh. sebagaimana kepekatan yang terlihat di wajah dan seluruh anggota tubuh karena mengumbar pandangan, oleh sebab itu Allah menyebutkan dalam surat An-Nur: 30 “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya” , berlanjut dengan An-Nur : 35 “Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi .”

3. Mendatangkan Kekuatan Firasat yang Benar 

Hati yang bercahaya karena pandangan yang terjaga akan mendatangkan kekuatan firasat. Kedudukan hati layaknya sebuah cermin, sedangkan pandangan seperti nafas yang yang dihembuskan pada cermin itu. Jika seorang mengumbar pandangan matanya, maka dia seperti menghembuskan nafas di cermin hatinya, sehingga cahayanya menjadi pudar dan bahkan tak tampak lagi.

4. Membuka Pintu dan Jalan Ilmu serta Memudahkan untuk Mendapatkan Sebab-sebab Ilmu

Hal ini terjadi karena adanya kejernihan hati yang timbul dari pandangan yang terjaga . Jika hati bersinar terang, maka akan muncul hakikat-hakikat pengetahuan di dalamnya, sehingga sebagian ilmu itu bisa diserap. Namun jalan ilmu menjadi tertutup bagi orang yang selalu mengumbar pandangannya.

5. Mendatangkan Kekuatan Hati, Keteguhan, dan Keberanian

Seseorang yang menahan pandangannya bisa menjadi penentang nafsu dimana syetan akan merasa takut kepadanya. diantara orang yang mengikuti hawa nafsunya ada yang hatinya menjadi hina dan lemah, jiwanya kerdil dan tak berharga. Sedangkan orang yang bisa mengendalikan nafsu hatinya menjadi kuat, teguh dan penuh keberanian karena terjaga dari pengaruh syetan yang senantiasa menjauhkan manusia dari Tuhannya.

6. Mendatangkan Kegembiraan, Kesenangan, dan Kenikmatan

Seorang yang menjaga pandangannya karena Allah niscaya Allah akan memberikan kenikmatan yang lebih besar dalam hidupnya. tidak ada kekhawatiran, karena syetan justru takut pada manusia yang selalu menentang keinginan nafsunya.

7. Membebaskan Hati dari Tawanan Syahwat

Sesungguhnya orang yang layak disebut tawanan adalah orang yang bisa dengan mudah ditawan syahwat dan nafsunya. Pepatah mengatakan “orang yang mengumbar pandangan matanya adalah seorang tawanan.

8. Menutup Pintu Neraka Jahannam

Pandangan mata adalah pintu syahwat yang selalu menuntut pelaksanaannya. Jika seseorang tidak mampu menjaga pandangan maka akan dengan mudah tergelincir pata berbagai macam fitnah dunia yang menyestkan. Maksiat timbul berawal dari pandangan, karenanya orang yang mampu menjaga pandangan bisa menutup pintu-pintu keburukan yang ada pada dirinya.

9. Menguatkan dan Mengokohkan Akal

Mengumbar pandangan mata tidak dilakukan kecuali oleh orang yang lemah akalnya, gegabah dan tidak memikirkan akibat dikemudian hari. Andaikan orang yang menumbar pandangannya mengetahui akibat dari perbuatannya, niscaya dia akan mengurungkan niatnya untuk melakukan itu.

10. Membebaskan Hati dari Syahwat yang Memabukkan dan Kelalaian yang Melenakan

Pandangan mata layaknya segelas arak, dan cinta adalah mabuk yang diakibatkannya. Mabuk cinta jauh lebih parah daripada mabuk karena arak. Orang yang mabuk karena arak akan mudah sadar, namun orang yang mabuk karena cinta seringkali terbawa arus dan bahkan tidak akan pernah mampu untuk kembali sadar.

Sebagai penutup, kami sajikan kisah dari seorang abid yang terjerumus pada fitnah dunia hanya karena tidak bisa menjaga pandangannya.

Berkata Ibnul Qoyyim, “Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke mesjid untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan sholat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu. Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya serta menjumpainya.

Wanita itu pun bertanya : “Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”

pria tersebut menjawab :  “Aku menghendaki dirimu”

sang wanita kembali bertanya : “Kenapa kau menghendaki diriku?”

pria itu menjawab : “Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku”

sang wanita berkata : “Aku tidak akan memnuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”,

pria itu pun berkata : “Aku akan menikahimu”,

sang wanita berkata : “Engkau beragam Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu”,

pria itu berkata : “Saya akan masuk dalam agama nasrani”,

sang wanita berakata : “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agama nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”.

Maka masuklah pria tersebut ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala ditengah hari (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita dirumah tersebut) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan tertentu) lalu iapun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati wanita  tersebut dan telah meninggalkan agamanya”.

Cinta Sang Penghuni Gua

Cinta Sang Penghuni Gua

“Jika cinta orang yang mabuk asmara kepada Laila dan Salma, telah merampas hati dan pikiran.

Lalu apa yang dilakukan oleh orang yang kasmaran, yang didalamnya mengalir rasa cinta kepada Yang Maha Tinggi?

Kelaparan, penyiksaan, kemiskinan, kehilangan keluarga dan orang-orang tercinta tidak meredupkan pancaran cinta mereka terhadap kebenaran islam. Tusukan tombak seperti angin segar yang siap membawa mereka ke puncak kenikmatan yang hakiki. Satu hal yang menjadi keyakinan mereka bahwa Allah selalu membersamai “Innalllaha ma ana”.

Siapa yang tak kenal sosok Abu Bakar ra., sahabat setia Rasulullah Saw. Beliau adalah orang kaya, mulia dan berwibawa. Santun dalam tutur dan sikap serta selalu ringan dalam memberi. Namanya masyhur di seantero kota mekkah. setiap ucapan yang keluar darinya adalah kebenaran. Keimanannya kuat mengakar dalam hati, sulit dan bahkan tak mampu digoyahkan oleh makhluk yang bernama manusia dan syaiton sekalipun.

Suatu ketika beliau berkesempatan menemani Rasulullah Saw dalam peristiwa genting yang mempertaruhkan nyawa sang Nabi. Batinnya bergemuruh, pucat wajahnya karena diselimuti ketakutan akan nasib Sang Nabi yang mulia. Malam itu mereka bergegas meninggalkan kota mekkah menuju kehidupan baru di Madinah.

Perjalanan dilalui penuh dengan bahaya yang siap mengincar, sampai akhirnya mereka memilih Gua Tsur sebagai tempat persembunyian sebelum menuju Madinah. Abu Bakar memberanikan diri menyusuri gua, menyisir setiap celah memastikan tempat itu aman untuk di huni. Setelah memastikan keamanan kondisi gua, Abu Bakar dan Rasulullah pun mulai menyiapkan tempat di dalam gua untuk beristirahat. Perjalanan yang sangat melelahkan membuat mata Rasulullah diselimuti rasa kantuk, beliau pun berbaring di pangkuan Abu Bakar ra. yang berusaha terjaga menahan kantuk demi Rasulullah Saw sahabat sekaligus guru yang paling beliau cintai.

Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih yang sangat kelelahan itu. Abu Bakar meringis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama. Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini” suara Rasulullah memenuhi udara Gua.

“Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun” potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.
“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?”

“Seekor ular baru saja menggigit saya wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat”

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibirnya bergerak “Mengapa engkau tidak menghindarinya?”
“Saya khawatir membangunkanmu dari lelap” jawab Abu Bakar. Ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah.

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Rasulullah berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah cinta dan persaudaraan karena Allah.

“Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan”. Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu.

“Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia seperti mu. Bagaimana mungkin?” nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

Itulah cinta yang dibangun atas dasar keyakinan, betapa kuat Abu Bakar menahan sakit demi memastikan keamanan manusia yang paling dicintai. Cintanya tulus, suci karena dia yakin akan kenikmatan hakiki dari kebenaran cinta yang ia tanam.

Sudah terlalu sering Abu Bakar membuktikan cinta dan keyakinannya pada Rasulullah, As-siddiq adalah salah satu bukti cinta dan keyakinannya terhadap Rasulullah Saw.

Suatu pagi masyarakat mekkah gempar mendengar berita menghebohkan yang datang dari lisan mulia Rasululllah Saw. Kenyataan yang sangat mustahil terjadi pada masa itu dalam pandangan manusia normal. Rasulullah mengumumkan apa yang dialaminya malam tadiperjalanan dari  Masjidil Harram menuju Masjidil Aqsho di Yerussalem, berlanjut dengan perjalan senyi menuju langit ke tujuh dan berakhir di Sidratul Muntaha. Perjalanan spiritual yang sangat sulit diterima oleh akal sehat manusia dimana pada masa itu belum ada teknologi yang mampu membawa seseorang menembus langit.

kabar ini menjadi angin segar bagi kaum kafir Quraisy yang sangat ingin menghancurkan keyakinan dari ummat islam waktu itu. Senjata ampuh untuk membobol pertahanan iman Abu Bakar ra yang menjadi sahabat terdekat sekaligus orang yang paling berpengaruh di kalangan Quraisy. Pagi itu, kaum kafir bergegas mencari Abu Bakar ra berharap melihat sejarah runtuhnya keyakinan Abu Bakar ra. terhadap ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.

 

Beberapa sahabat yang telah bergabung dengan barisan kaum muslim sempat ragu dengan apa yang dialami Rasulullah Saw, namun hal itu tidak berlaku bagi Abu Bakar ra..dialog singkat pun terjadi antara Abu Bakar ra dengan Abu Jahal yang merupakkan musuh besar agama ini.

Abu Jahal : “Hai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang cerita sahabatmu yang kamu cintai bahwa ia semalam telah pergi ke Baitul Maqdis dan pagi ini telah berada di Mekah bersama Kita?”

Abu Bakar menjawab : “Apakah ia benar mengatakan demikian?”

Abu Jahal : “Ya, ia telah berkata demikian di depan orang banyak di masjid. Oleh karena itu, agar kamu mendengar langsung ucapan sahabatmu itu.”

Abu Bakar : “Jika benar demikian, maka sungguh ia memang benar dan tidak akan pernah berdusta.”

Abu Jahal dan kawan-kawan berkata : “Apakah kamu membenarkan perkataannya bahwa ia telah pergi ke Baitul Maqdis semalam, dan kembali ke Mekah sebelum fajar?”

Abu Bakar : “Ya, aku membenarkan perkataannya dan aku membenarkan ia meskipun lebih jauh daripada itu. Aku akan membenarkan berita dari langit, baik diwaktu pagi ataupun sore yang datang darinya.”

Begitulah Abu bakar ra, sahabat yang memiliki kredibilitas dan loyalitas yang tinggi terhadap islam. Keyakinannya mantap, cintanya tulus. Karenanya tak berlebihan jika Rasulullah bersabda  “Jika ditimbang iman Abu Bakar As Siddiq dengan seluruh umat manusia, niscaya lebih berat iman Abu Bakar”.

 

Cantik Ala Muslimah

Cantik Ala Muslimah

Apa yang kita pikirkan tentang kecantikan? kosmetik bermerek kah? atau mungkin tentang facial dan fasilitas kecantikan ala salon ternama?

Cantik? Setiap wanita pasti selalu ingin terlihat cantik, terlebih dihadapan orang yang dicintainya. Karenannya banyak produk kecantikan yang menawarkan berbagai macam fasilitas yang katanya dapat membuat wanita terlihat lebih cantik, mulai dari yang harganya ribuan sampai ratusan juta. Nyatanya, banyak yang diakui sebagai orang cantik, namun harus mengakhiri karir hidupnya hanya karena prodak kecantikan yang gagal membuat dirinya terlihat lebih cantik.

Priscilia P. salah seorang artis Bollywood yang sangat terkenal di zamannya harus menerima kenyataan bahwa dirinya terlihat lebih tua dari usianya setelah mengalami kegagalan pada operasi plastik yang dilakukannya. Obsesi untuk menjadi wanita tercantik tidak membuat wanita ini benar-benar terlihat cantik, bahkan dia harus merelakan kecantikannya hanya demi operasi plastik yang telah merusak wajahnya. Dan masih banyak pula mereka yang melakukan hal serupa demi mengejar kecantikan.

Manusia memang tidak pernah puas dengan apa yang Allah hadiahkan untuknya. Merubah ciptaan Allah dengan alasan untuk mempercantik diri bukanlah pilihan yang baik bagi kita. Rasulullah sudah memberikan rambu-rambu bagi para wanita dalam menjaga kecantikannya. Beliau bersabda “Allah telah melaknat mengutuk orang-orang yang membuat tato dan orang yang minta dibuatkan tato, orang-orang yang mencabut bulu mata, orang-orang yang minta dicabut bulu matanya, dan orang-orang yang merenggangkan gigi demi kecantikan yang merubah ciptaan Allah.” (HR. Muslim).

Sebagai muslimah selayaknya kita lebih percaya pada Rasulullah Saw. yang telah menawarkan berbagai macam cara terbaik yang bisa membuat kita tetap terlihat cantik, bahkan lebih dari yang kita inginkan. Tips berikut ini  bisa membuat kita tetap terlihat cantik, bukan hanya di dunia bahkan sampai akhirat. Insya Allah.

Continue reading “Cantik Ala Muslimah”

Cinta Dalam Hening

Cinta Dalam Hening

 

Ia dicipta dari tulang rusuk laki-laki, tak tegak namun masih bisa menjadi tegak. Jika diluruskan dengan cara yang kasar tentu tak kan bisa menjadi tegak bahkankan bisa rapuh karenanya, jika dibiarkan pun tak baik karena kebengkokan akan senantiasa menyertainya. Hanya ada satu pilihan dan pilihan ini sering menjadi senjata laki-laki untuk menaklukkannya yaitu dengan “kelembutan”.

Begitulah sejatinya fitrah wanita, penuh kelembutan terlebih pada jiwanya yang lembut tersimpan mutiara yang sulit untuk dimaknai. Terkadang wanita merasakan kenyamanan ketika berinteraksi dengan lawan jenis, karena merasa mendapat perlakuan istimewa yang berbeda dengan perlakuan teman wanitanya. Sebenarnya bukan itu, tapi karena berbeda kutub dimana wanita menjadi kutub positif dan laki-laki menjadi kutub negative menjadikan laki-laki selalu bisa melengkapi apa yang menjadi kekurangannya. Rayuan gombal sang lelaki bisa menjadi nyanyian pengantar tidur bagi para wanita, dan itu suatu yang lumrah karena begitulah fitrahnya.

Wanita diciptakan dengan segala keindahan, mengalahkan keindahan alam yang dicipta, ianya begitu istimewa sampai lisan suci rasulullah mengeluarkan sabda untuknya “sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah” begitu Rasulullah menukil dalam haditsnnya. Tak heran jika laki-laki sering dibuat kehilangan akal jika telah terpesona dengan seorang wanita, bahkan ada yang rela menikam dirinya hanya karena ingin menemani jasad wanita yang ia cintai di pembaringan. Namun berbeda dengan  wanita istimewa itu, ia tak akan pernah menjadi duri dalam sekam apalagi membuat gila para lelaki, tapi sebaliknya. Ia dapat menjadi penawar bagi jiwa yang sakit, menjadi oase di padang gersang bagi laki-laki yang berniat mendekatinya.

Wanita memang istimewa, Karenanya ia harus cerdas dalam menjaga diri. Tak mengapa ia berteman dengan siapapun termasuk lawan jenis asalkan ia mampu pertahankan keistimewaannya. Terkadang ada sebagian wanita yang justru tak bangga dengan keistimewaan yang ia miliki, ia lebih bahagia menjadi sampah permainan para lelaki. Saya harap, saya dan anda semua tak pernah berniat untuk menjadi seperti itu. Wanita itu istimewa, jangan sia-siakan itu. Tak ada syurga di telapak kaki laki-laki, adanya hanya pada wanita. Tak ada bakti yang didahulukan sebelum bakti pada wanita, dan itulah istimewanya. Tapi apakah semua wanita istimewa?

Continue reading “Cinta Dalam Hening”